Sebagian Kalian Ujian Bagi Yang Lain, Apakah Kalian Bersabar..?

Oleh:‘Umar Al Indunisy (Darul Hadits, Ma’bar – Yaman)

Allah Ta’ala berfirman,وَجَعَلْنَا بَعْضَكُمْ لِبَعْضٍ فِتْنَةً أَتَصْبِرُونَ وَكَانَ رَبُّكَ بَصِيرًا“

Dan kami jadikan sebagian kalian fitnah bagi sebagian yang lain, apakah kalian akan bersabar. Dan adalah Rabb kamu itu maha melihat.

”Al-Qurthuby rahimahullah berkata dalam menafsirkan ayat ini: “Yaitu bahwa dunia aini adalah tempatnya ujian dan cobaan, maka Allah Ta’ala menghendaki untuk menjadikan sebagian hamba sebagai ujian bagi yang lain secara umumuntuk keseluruhan manusia, yang mukmin dan yang kafir. Orang yang sehat ujian bagi yang sakit, orang yang kaya ujian bagi yang fakir, dan orang yang fakir tapi sabar ujian bagi yang kaya.Makna dari semua ini adalah bahwa setiap orang diuji dengan temannya (yang berlawanan kondisinya). 

Yang kaya diuji dengan yang fakir, dia dituntut untuk berbuat adil merasa apa yang dirasakan dan tidak merendahkannya. Yang fakir diuji dengan yang kaya, dia dituntut untuk tidak hasad terhadap yang kaya, dan tidak mengambil sesuatu darinya kecuali yang diberikan. 

Dan semuanya dituntut untuk bersabar di atas al-haq. Sebagaimana dikatakan oleh Adh-Dhahak terkait makna “apakah kalian akan bersabar”: “yaitu di atas al-haq”. Orang-orang yang tertimpa musibah mengatakan: “Kenapa kita belum disembuhkan?”, orang yang buta mengatakan: “Kenapa aku tidak dijadikan orang yang bisa melihat?”, demikian semua orang yang sakit. Dan Rasul shallallahu ‘aliahi wa sallam orang yang dikhususkan dengankaramah kenabian menjadi ujian bagi orang-orang mulia dari kalangan orang kafir di zamannya. Demikian pula ulama dan pemimpin yang adil fitnah bagi yang lain. 

Maka ujian adalah jika seseorang terjatuh pada hasad, orang yang teruji hasad terhadap yang tidak teruji. Dan kesabaran adalah masing-masing orang menahan dirinya, yang ini menahan diri dari penentangan yang ini manehan diri dari kemalasan dan keluhan.

”.Asy-Syaikh Muhammad Al-Imam berkata ketika memberikan nasehat kepada ikhwah salafiyin Kendari:” Rabb kita jalla sya’nuhu menguji dan memberi cobaan pada kita dengan sebagian kita, agar bisa diketahui adanya kesabaran kita atau tidak adanya, dan agar diketahui mana yang jujur dalam ta’awun dalam kebaikan dan ketakwaan dan yang tidak seperti itu. Rabb kita berfirman dan Dia adalah yang paling benar ucapannya,

وَجَعَلْنَا بَعْضَكُمْ لِبَعْضٍ فِتْنَةً أَتَصْبِرُونَ وَكَانَ رَبُّكَ بَصِيرًا

“Dan Kami jadikan sebagian kalian bagi yang lainnya fitnah (ujian), apakah kalian akan bersabar? Dan adalah Rabbmu itu Maha Melihat.”Subhanallah, betapa banyak saudara kita yang lalai dari ayat ini. 

Ketika timbul dari saudaranya sesuatu dia berusaha bagaimana bisa menyingkirkannya, bagaimana bisa mengalahkannya, dan bagaimana bisa memaksakan pendapatnya -kecuali orang yang dirahmati Allah Ta’ala-.Rabb kita mengajak kita kepada pemberian yang paling luas yang Dia berikan kepada hamba, memuliakan dengannya hamba. Al-Bukhary dan Muslim telah meriwayatkan dari hadits Abu Sa’id bahwa Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa salam- bersabda,

وَمَا أَعْطَى اللَّهُ أَحَدًا مِنْ عَطَاءٍ أَوْسَعَ مِنَ الصَّبْرِ

“Tidaklah seorangpun diberi pemberian lebih baikdaan lebih luas dari kesabaran.

”Wahai saudara sekalian, aku ingakan kalian akan atsar yang sangat agung, yaitu atsar yang hasan dari Ibnu Mas’ud dia berkata ditujukan kepada shahabat di saat itu, pada saat terjadinya sedikit perselisihan: “Sesungguhnya apa yang kalian benci selama dalam jama’ah itu lebih baik dari apa yang kalian cintai dalam perpecahan”.

Maka tetap bersamanya kalian dengan saudaramu ahlus sunnah lebih baik bagimu, wallahi, meskipun ada sedikit perselisihan, meski terjadi perselisihan antara engkau dan saudaramu, yang ini keterlaluan dalam bicara tentangnya atau tentang saudaranya. Kesabaran, perbaikan dan nasehat dan yang semisalnya adalah obat, penyembuh, dan terapinya semua perkara ini. 

Maka janganlah kalian ceburkan diri kalian dalam perselisihan, dan jadilah sebagaimana yaang kalian diperintah Allah ta’ala, merujuk kepada ulama dan bertanya kepada mereka, apa yaang harus diperbuat, bagaimana sikapnya bersama ini atau bersama orang-orang yang terjadi dari mereka ini.

”Dan jawaban Asy-Syaikh Abdullah Mar’i ketika kami bertanya di kediaman beliau bagaimana menghadapi keadaan yang diliputi dengan berbagai fitnah, beliau menjawab dengan jawaban yang mengingatkan kita akan ayat tersebut. Kata beliau singkat yaitu: “Sabar”.

Wallahu a’lam.

Advertisements

Tabligh Akbar Ulama Timur Tengah Assyaikh Prof Dr. Wasiyullah Abbas di Pesantren Al-Islam Cileunyi Bandung

Sufyan Attsauriy berlindung kpd Allah untuk membenarkan niat karena merasa sulitnya meluruskan niat. 

Tafridh yaitu menganggap remeh halaqah-halaqah ilmu diantara kesalahan tholabul ilm.

Majelis taklim bukan majelis bukan biasa biasa saja untuk diremehkan.

Ulama paham ilmu didatangi & tidak datang dengan sendirinya. Para salaf rela menjual harta demi mendapatkan ilmu. 

Kedatangan Syaikh 

Butuhnya hamba kepada makanan minum hanya 3x sdangkan butuh ilmu sbanyak hantakan nafas (imam ahmad)

Menuntut ilmu adalah pekerjaan spesial persaksian para ahli ilmu sejajar dengan persaksian malaikat. 

Dimasa Rasul ada seorang yg durhaka dalam kuburnya terdengar suara keledai akibat semasa hidup mengatakan suara ibunya seperti keledai dan tidak bertaubat.

Menggendong ibunya semasa haji tidak akan mampu menunaikan hak ibunya seperti perkataan rasul kepada seseorang.

Pemaksaan orang tua untuk kesyirikan tidak ditaati ada seorang sahabat yg ortunya mogok makan si anak harus kufur namun sang sahabat kokoh pada pendirian.

Muslim menjadikan Allah sbg khaliq

Seorang sahabat pelaku zina, tanpa saksi hanya dia dan mengaku hingga beberapakali dan mengakui apa punya kegilaan? Maka diperintah untuk di rajam.

Nasehat Luqman apa kebajikan seberat biji sawi dalam terttp dan tersembunyi dalam sebuah batu akan Allah datangkan jangan berkata aku durhaka pada ortu allah akan memaafkan maka bisa diadzab dengan sebabnya.

Menempuh sebab-sebab dalam mencari rejeki yang halal. Tawakkal yang sebenarnya sebagaimana burung yang pagi kosong perutnya dan pulang dalam keadaan penuh. Sebaiknya seorang muslim ya Allah ini usahaku aku bertawakal kepada Mu zebagamaina api ibrahim menjadi dingin.

Anak dilahirkan dalam keadaan fitrah (islam) ortu menjadikan anaknya yahudi dan nashara. 

Ditanya kepada syaikh wasiullah abbas 

1. Apa hukum membunuh kucing sekarat? Jawab: Sama dengan hukum manusia tidak boleh.

2.Apa sah memakai celana pantalon/jeans yg nampak auratnya? Tidak sah bila jelas bentuk auratnya, kecuali bila pakaian tersebut longgar. Pantaloon termasuk pakaian barat yang ketat termasuk jeans yang ketat menampak aurat sama hukum dgn wanita yg nampak payudara saat sholat.

3. Bakti kepada orang tua suka memukul? Jawab memukul pasti dlm rangka kebaikan, dalam keadaan seperti itu wajib berbakti. Mereka yang menyambung silaturahim yaitu kepada mereka yang memutus.

Jazakallah khairan atas bagusnya cara mendengar kalian ada org yang ikut bermajlis namun Allah mengampuni walo tanpa faedah 100 % namun cukup dengan pengampunan Allah.

Ahli ibadah yang sombong atau Si Pemalas yang sopan ?

​Seorang Guru Bijak ditanya tentang 2 keadaan manusia :1. Manusia yg rajin sekali ibadahnya, namun sombong, angkuh, selalu merasa suci dan suka mencaci maki sesama2. Manusia yg sangat jarang ibadahnya, namun akhlaknya begitu mulia, rendah hati, santun, lembut dan cinta kasih dg sesama.Lalu Sang Guru Bijak menjawab :.”Keduanya sama-sama baik, karena,Boleh jadi suatu saat si ahli ibadah yg sombong itu, dg barokah ibadahnya, Allah bukakan pintu kesadaran padanya tentang perangainya yg tercela, kemudian dia bertaubat dan berubah menjadi pribadi yg juga bagus akhlaqnya, yg baik lahir dan batinnya..==> “akhirnya dia pun meraih husnul khothimah”Sedangkan orang yg kedua bisa jadi suatu hari sebab kebaikan hatinya, Allah akan menurunkan hidayah & taufiq padanya, lalu ia bertaubat dan berubah menjadi seorang hamba yg juga ahli ibadah, yg baik lahir maupun batinnya..==> akhirnya dia pun meraih husnul khothimah”Kemudian si murid tsb bertanya lagi :.”lalu siapa yg tidak baik kalau begitu wahai guru…???” .Sang Guru Bijak menjawab,.”Wahai anakku, sesungguhnya yg tidak baik adalah kita….. orang ketiga yg selalu mampu menilai orang lain, namun lalaimenilai diri sendiri”.

Nanti dan nanti kapan realisasi ?

​LAKUKAN SEKARANG, ATAU TIDAK PERNAH SAMA SEKALI.=========================Kata “Nanti” ( dalam bahasa Arab : Saufa ), dinamai sebagai”tentara Setan” oleh sebagian ulama.Kenapa karena kata “Nanti” sering menghentikan langkah seseorang ketika akan atau sedang melakukan kebaikkan.Kebiasaan menunda-nunda pekerjaan, tugas, kewajiban dan kebaikan merupakan kebiasaan buruk dan merugikan.Betapa sering kita sport jantung karena dikejar-kejar deadline, takut keburu waktu habis, takut ketinggalan, akhirnya asal-asalan dan hasil tidak memuaskan, atau bahkan kita kehilangan kesempatan emas dan moment penting.Akhirnya, kita menyesal dan tiada guna penyesalan, karena”Nasi sudah gosong”.Coba pikirkan, ketika mau mau menuntut ilmu, nanti saja, ketika mau baca Al-Qur’an, nanti aja, ketika mau menghafal Al-Qur’an, nanti aja, ketika mau sholat, nanti aja, ketika mau puasa sunnah, nanti aja, ketika mau bayar utang nanti aja, ketika mau nengok orang sakit nanti aja, bahkan ketika mau tobat, nanti aja.Kerjakan sekarang juga, mulai sekarang juga, karena kita masih ada kesempatan hidup di hari ini, esok hari belum tentu.Bila esok hari kita ada kesempatan, kita tidak rugi, karena kita bisa mengerjakan pekerjaan dan tugas yang lainnya.Penyesalan orang-orang yang rugi di dunia karena menunda-nunda pekerjaan dan penghunia Neraka karena menunda-nunda kebaikan.____________

Bincang takdir! Manusia adalah Pelaku, Dia lah yang pencipta perbuatan

​Manusia adalah Pelaku, Allahlah Pencipta Perbuatan Manusia.Manusia adalah pelaku perbuatannya, sedangkan Pencipta perbuatan adalah Allah. Karena itu, untuk bisa beribadah kepada Allah dengan baik, seseorang butuh pertolongan Allah. Seorang muslim mengulang permohonan itu dalam setiap rokaat sholatnya. Iyyaaka Na’budu wa Iyyaaka nasta’iin..Hanya kepadaMu kami menyembah, Ya Allah dan hanya kepadaMulah kami meminta pertolongan untuk mempersembahkanibadah yang terbaik kepadaMu.Segala sesuatu telah ditakdirkan, sampai-sampai kita meletakkan tangan kita pada pipi kita, di tempat tertentu, di waktu tertentu, dengan keadaan tertentu, telah ditakdirkan dan tertulis di Lauhul Mahfudzh. Sahabat Nabi Ibnu Abbas menyatakan:كُلُّ شَيْءٍ بِقَدَرٍ حَتَّى وَضْعَكَ يَدَكَ عَلَى خَدِّكَSegala sesuatu telah ditakdirkan. Sampai-sampai (termasuk) engkau meletakkan tanganmu di pipimu (diriwayatkan oleh al-Bukhari secara mu’allaq dalam Kholqu Af’aalil Ibaad no 105 hal 47).Segala sesuatu telah ditakdirkan, sampai-sampai timbulnya semangat atau munculnya perasaan malas pun juga telah ditakdirkan.كُلُّ شَيْءٍ بِقَدَرٍ حَتَّى الْعَجْزِ وَالْكَيْسِSegala sesuatu telah ditakdirkan, sampai-sampai kelemahan/perasaan malas dan perasaan semangat (H.R Muslim no 4799).Rasulullah shollallahu alaihi wasallam mengajarkan doa untuk berlindung dari sikap lemah dan malas. Hal itu menunjukkan bahwa kepada Sang Penciptanyalah kita berharap dan memohon perlindungan.اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ وَالْجُبْنِ وَالْبُخْلِ وَالْهَرَمِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِYa Allah, aku berlindung kepadaMu dari kelemahan, perasaan malas, takut, kikir, dan keadaan sangat tua (sehingga pikun dan menyusahkan) , dan aku berlindung kepadaMu dari adzab kubur dan aku berlindung kepadaMu dari fitnah kehidupan dan kematian (H.R alBukhari no 5890 dan Muslim no 4878).Dalam setiap memulai khutbahnya, Nabi shollallahu alaihi wasallam selalu meminta perlindungan kepada Allah dari keburukan jiwa dan keburukan perbuatan….وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَاDan kami berlindung kepada Allah dari keburukan jiwa kami dan dari keburukan perbuatan-perbuatan kami (H.R atTirmidzi, anNasaai, Ahmad).Karena Allah adalah pencipta perbuatan kita, maka kita meminta pertolongan kepadaNya, dan meyakini bahwa tiadadaya dan upaya kecuali atas pertolonganNya:لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِTiada daya dan kekuatan kecuali atas pertolongan Allah.Namun, harus diingat bahwa manusia adalah pelaku perbuatannya. Mereka memiliki kehendak untuk berbuat. Halitu telah disadari oleh akal mereka sendiri. Sama sekali mereka tidak merasa terpaksa untuk memilih berbuat demikian atau demikian. Ia bisa memilih untuk berjalan, duduk, diam, atau berbicara, dan segala macam perbuatan lain.Demikian juga Allah tetapkan pada mereka perintah dan larangan. Tidaklah perintah atau larangan diberikan kecuali kepada pihak yang memiliki kehendak untuk berbuat. Allah perintahkan: Tegakkan sholat, tunaikan zakat..dan berbagai perintah yang lainnya, adalah karena manusia memiliki kehendak untuk berbuat.Manusia punya pilihan untuk beriman atau kafir. Silakan memilih. Allah akan sediakan adzab yang pedih bagi orang yang kafir.فَمَنْ شَاءَ فَلْيُؤْمِنْ وَمَنْ شَاءَ فَلْيَكْفُرْ إِنَّا أَعْتَدْنَا لِلظَّالِمِينَ نَارًا أَحَاطَ بِهِمْ سُرَادِقُهَاBarangsiapa yang mau silakan dia beriman, siapa yang mau silakan dia kafir. Sesungguhnya Kami sediakan bagi orang-orang dzhalim itu neraka yang gejolaknya mengepung mereka (Q.S al-Kahfi:29).مِنْكُمْ مَنْ يُرِيدُ الدُّنْيَا وَمِنْكُمْ مَنْ يُرِيدُ الْآَخِرَةَDi antara kalian ada yang menginginkan (kehidupan) dunia, dan di antara kalian ada yang menginginkan kehidupan akhirat (Q.S Aali Imran:152).Tidak bisa seseorang yang berbuat maksiat beralasan dengan takdir, karena pelakunya adalah mereka. Ya, merekalah pelaku perbuatan tersebut. Mereka melakukannya dengan sadar, tanpa paksaan, dan telah mengetahui bahwasanya hal itu dilarang oleh Allah. Allah tidak akan mengadzab seseorang yang mengerjakan sesuatu karena terpaksa, karena tidak sadar, atau karena tidak tahu.Allah mencela sikap dan ucapan orang-orang musyrikin yang berbuat kesyirikan kemudian berdalih dengan takdir: “kalau Allah kehendaki, niscaya kami dan ayah-ayah kami tidak berbuat kesyirikan”. Allah cela hal tersebut dan dianggap sebagai bentuk penentangan yang akan mendapat adzab dari Allah. Allah menggolongkan mereka sebagai pendusta.سَيَقُولُ الَّذِينَ أَشْرَكُواْ لَوْ شَاء اللّهُ مَا أَشْرَكْنَا وَلاَ آبَاؤُنَا وَلاَ حَرَّمْنَامِن شَيْءٍ كَذَلِكَ كَذَّبَ الَّذِينَ مِن قَبْلِهِم حَتَّى ذَاقُواْ بَأْسَنَا قُلْ هَلْ عِندَكُم مِّنْ عِلْمٍ فَتُخْرِجُوهُ لَنَا إِن تَتَّبِعُونَ إِلاَّ الظَّنَّ وَإِنْ أَنتُمْ إَلاَّ تَخْرُصُونَOrang-orang yang mempersekutukanAllah akan mengatakan: “Jika Allah menghendaki, niscaya kami dan bapak-bapak kami tidak mempersekutukanNya dan tidak (pula) kami mengharamkan barang sesuatu apa pun”. Demikian pulalah orang-orang yang sebelum mereka telah mendustakan (para Rasul) sampai mereka merasakan siksaan Kami. Kalian tidaklah mengikuti kecuali persangkaanbelaka, dan kami tidak lain hanya berdusta (Q.S al-An’aam:148).Dikisahkan bahwa suatu saat ada seorang pencuri didatangkan kepada Umar bin al-Khottob. Kemudian Umar bertanya: Apa yang membuatmu melakukan pencurian ini? Orang itu berkata: Saya mencuri atas takdir Allah. Umar mengatakan: Ya, dan saya akan memotong tanganmu (sebagai hukuman) juga atas takdir Allah.(dikisahkan oleh Syaikh Ibnu Utsaimin dalam Majmu’ Fataawa wa Rosaail (2/96) pada bagian al-Qodho’ wal Qodar, namun saya belum mendapatkan rujukan riwayatnya. Wallaahu A’lam).Kendari, 21 Ramadhan 1438 H / 16 Juni 2017.~~~~~~~~~~~~~~~~Dikutip dari Buku “Akidah Imam Al-Muzani (Murid Imam Asy-Syafii)”Al Ustadz Abu Utsman Kharisman Hafidzahullah.=====================