Ummu Khalid Bintu Khalid Radyiallahuanhuma anak wanita yang dipakaikan sutra langsung oleh Rasulullah

ABU THUFAIL alias amir sahabat paling terakhir yang wafat saat perang memihak Ali bin Abi Thalib.

Ummu Khalid Radyiallahuanhuma adalah seorang sahabiyyah yg wafat paling akhir nama asli Amatullah (hamba allah perempuan). Ibunya bernama Umaimah yg tinggal di Habasyah dan kemudian hijrah ke Madinah termasuk Ashabul hijratain (pindah 2 x).

Hadits yang diriwayatkan :

  1. Belindung dari adzab kubur.
  2. Memakaikan baju dari sutra kpd Ummu Khalid.
Advertisements

Tarikh Sahabat Abdullah Bin Busyrin Al Mazini Radyiallahu’anhuma

Mukjizat Rasulullah selalu diperbarui tanpa harus dalam satu ketetatapan 

Contoh : 

  • Anas bin Malik didoakan Rasulullah banyak anak hingga 129 anak dan berusia panjang hingga 103 tahun. (Dihitung imam nawawy sbg mukjizat).

Abu sofwan Al-Mazini tinggal di Homz (Himsun). 

Pengikut panglima Muawiyyah Bin Abi Sofyan

Fisik : 

  • Panjang dan belah tengah menutup telinga.
  • Kumis yang dipotong diatas bibir atas.
  • Jidatnya hitam bekas sujud.
  • Tahi lalat di kepala dimana Rasulullah pernah meletakan tangan nya mengatakan beliau akan mencapai usia 100 tahun.

Tariq Sejarah Sahabat Umar Bin Abi Salamah

Salamah adalah nama laki-laki bila nama perempuan menjadi Salimah atau Salamaah.

Rasulullah menikahi Ummu Salamah seperti menikahi gadis tanpa tanggungan anak suami pertama Ummu Salamah.

Tuduhan bahwa Rasulullah dan Nabi adalah pelaku pedofilia tidak benar karna budaya saat itu manusia menikah diusia belasan. Tidak lazim bila umur 35 tahun menikah pada zaman itu seperti budaya barat. 

Contoh : 

  • Umar bin Abi Salamah (anak tiri Rasulullah sekaligus paman susuan Rasulullah) menikah sebelum umur 13 tahun berarti istrinya berumur sekitar 9 atau 12 tahun.
  • Abdullah bin Amr Al Ash Radyiallahu’anhuma terhitung hanya selang 11 tahun dengan anaknya. Berarti dia menikah di umur 11 an tahun yang pasti istrinya dibawah tersebut.

​30 Tahun Perjuangan Melawan Larangan Jilbab

Awal tahun 1980-an merupakan periode konflik antara Islam dan Pemerintah. Kedua pihak saling berlawanan dan kerap bersitegang. Politik Pemerintah Orde Baru yang represif terhadap umat Islam turut memperkeruh persoalan ini.
Pada kasus jilbab ini, Depdikbud rupaya tidak bisa menutupi sikap curiganya terhadap siswi berjilbab. Sebagaimana pada kasus Tri Wulandari di Jember. Pihak Kodim 0824 Jember sempat memanggilnya karena dicurigai sebagai anggota Jamaah Imron. Jilbab pada saat itu dianggap sebagai perwujudan gerakan politik yang mengancam pihak pemerintah.

Maret 1984, pihak Depdikbud mengeluarkan penjelasan tentang pakaian seragam sekolah (bagi keperluan intern jajaran Depdikbud). Di dalamnya secara jelas menguraikan sudut pandang Depdikbud terhadap bermunculannya jilbab di sekolah-sekolah negeri serta protes-protes sekelompok masyarakat terhadap SK 052.

Sikap sekelompok masyarakat tersebut dimanfaatkan oleh golongan tertentu untuk menentang pemerintah, antara lain memperalat siswi di beberapa sekolah pada beberapa kota besar untuk mengenakan sejenis pakaian yang menyimpang/tidak sesuai dengan ketentuan pakaian seragam sekolah. Terutama sekali perlu ditegaskan, bahwa pakaian seragam sekolah tidak menentang ajaran Islam. Dan sebaliknya bahwa “aksi jilbab” yang dilancarkan oknum-oknum tertentu, bukan suatu gerakan agama, melainkan merupakan gerakan politik.

Cara pandang seperti ini tampaknya menurun pada sebagian guru, sehingga sikap mereka tidak ramah atau bahkan membenci siswi-siswi yang memakai jilbab. Seorang guru SMAN 31 Jakarta pernah menuding siswi berjilbab di sekolah itu bahwa cara berpakaian mereka “mewakili gerakan tertentu.” Namun ketika ditanya gerakan apa yang dimaksud, sang guru diam, tidak bisa menjawab.

Berangkat dari kenyataan-kenyataan itu, maka tidak mengherankan bila SK ini segera memakan korban. Siswi-siswi berjilbab sampai ada yang dikeluarkan dan dipindahkan dari sekolah, diskors, dicap seperti gerakan laten PKI, diinterogasi di ruang BP, dikejar-kejar kepala “robot” sekolah yang selalu berlindung di balik kalimat, “Saya hanya melaksanakan perintah atasan.”, kemudian dimaki-maki, diusir, dimasukkan ke kandang ayam, dan dibotakki oleh orang tua sendiri, serta difitnah menyebar racun.

(Alwi Alatas dan Fifrida Desliyanti,Revolusi Jilbab Kasus Pelarangan Jilbab di SMA Negeri se-Jabodetabek, 1982-1991)

Tempo, 11 Desember 1982,

“Larangan Buat si kudung”

Suntingan tulisan Muhammad Cheng Ho.

Iblis jin shaleh yang beribadah diantara malaikat

Alkisah sebelum nabi adam turun ke bumi. bumi dalam keadaan panas oleh pertemuran Jin. diceritakan bahawa yang menduduki bumi ini adalah bangsa jin yang dikelompokan menjadi abal jan dan Banul jan. Jin saling perang dikarenakan sifat mereka yang panas dan saling ingin menguasai. Hingga tersebutlah Jin yang sangat shaleh dan suka beribadah bernama Iblis bahkan saking shalehnya Jin ini di izinkan untuk beribadah di antara langit ke langit hingga mendekati surga terakhir dan dipercaya Allah diberi pangkat tinggi untuk beribadah diantara para Malaikat dan turun kembali ke bumi menumpas para Jin yang sedang berperang. Kesuksesan ini membawa kesombongan/pembangkangan iblis dan ambisinya akibat sifat api yang dimiliki untuk menjadi penguasa bumi, penguasa langit karena merasa paling dekat dengan Allah, paling banyak sujudnya, setara dengan malaikat dan lebih lagi mengetahui akan tercipta mahluk baru bernama manusia yang HANYA terbuat dari tanah.

Bab sholat Istisqa

Musholla di zaman Rasulullah maksudnya adalah lapangan bukan masjid kecil di zaman kita. 

Hidayah kepada Tauhid adalah sebab terbaik kenapa fanatisme cintanya para sahabat pengikut kepada Rasulullah. Para sahabat merasakan kegelapan jahatnya syirik, berhala maksiat dan jahiliyyah. Nikmat yang luar biasa atas Islam dan Tauhid.

Contoh : orang kaya sejak kecil terbiasa dgn kemewahan. Berbeda dgn orang miskin yang kaya.

Adab Balas Dendam

​Allah berfirman dalam surat Al-Baqarah ayat 194: “Oleh sebab itu barang siapa yang menyerang kamu, maka seranglah ia, seimbang dengan serangannya terhadapmu.”

.

Tafsir Al Qurthubi menjelaskan, “Barangsiapa saja yang menzalimimu maka ambillah hakmu yang dizalimi tersebut, barang siapa yang mencacimu, maka cacilah ia sesuai dengan cacian yang setimpal. Barangsiapa dipermalukan maka permalukan dia dan janganlah kamu melebihi itu, seperti mempermalukan kedua orangtuanya, anaknya atau kerabatnya yang lain”. (tafsir Qurhubi jilid 2 hl 360 terbitan Daar Al-Shaab Kairo th. 1372 H)

.

Pernyataan Al Qurthubi ini menunjukkan jika dalam membalas pun tetap ada adab-adab tersendiri yang tidak boleh dilanggar, seperti tak boleh melampaui batas, tidak boleh mempermalukan orang tua, anak-anak dan kerabatnya. Hal ini memang sangat sukar dilakukan karena biasanya sudah dalam tahap sangat labil emosi dan perilaku orang yang dizalimi, tapi itulah kehebatan Islam yang penuh ajaran baik.

.

via : Ummu Diyan